Selasa, 14 Juni 2022

Kelas Kreatif Writing Challenge

 

 

#Bersyukur

#Challenge day 1

Di balik sifatnya yang kerap santai dan tenang dalam menghadapi segala hal, kukira ia adalah manusia yang paling banyak mengucap syukur. Ya, ia yang selama ini menjadi imamku. Hal paling sederhana sekalipun akan ia akhiri dengan ucapan syukur. Mungkin sebagian orang menganggap hal itu biasa. Namun di matanya semua hal akan menjadi luar biasa dan patut untuk disyukuri.

Pun jika menemui kegagalan, ia juga akan bersyukur. Katanya masih banyak hal yang patut kita syukuri dan mengambil hikmah dari setiap masalah yang kita hadapi.

Pernah suatu ketika karena satu dan lain hal kami tidak jadi berangkat ke tempat yang kami tuju. Alih-alih kecewa, ia berujar kami harusnya bersyukur. Allah menyimpan rahasia di balik ini semua. Jika kami jadi pergi, bisa saja sesuatu yang tidak kami harapkan akan terjadi. Allah menunda hingga saat yang tepat agar kami dapat selamat. Kutercenung mencerna kata demi kata yang meluncur dari mulutnya. Dari dirinya aku banyak belajar sehingga ucapan syukur senantiasa mengalir dari mulutku kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apapun yang kuhadapi.

 


#Pilihan/Memilih

#Challenge day 2

Kubilang Istana

Semua orang saat itu menyayangkan pilihanku. Mereka acapkali merasa kesal dan geram atas pilihanku. Berkali-kali pula mereka mencoba meyakinkanku.

"Kenapa sih kamu pilih gubuk reyot itu?"

"Mana? Oh, itu kan istana megah."

"Yakin? Liat deh sekali lagi. Buka matamu lebar-lebar!'

"Itu istana. Indah, penuh warna dan cahaya...." jawabku sambil tersenyum.

"Udah jelas gubuk. Kamu tuh ya, dibilangin gak percaya. Semua orang juga bilang kalau itu gubuk. Matamu buta!"

Mereka tak henti meyakinkanku. Beberapa diantaranya bahkan memilih pergi. Menjauh dariku. Dan Aku? Aku semakin yakin dengan pilihanku dengan terus melangitkan doa dan mengangkasa harap di setiap helaan napasku. Berserah pada-Nya. Ikhlas. Hingga suatu ketika, mereka pun berkata "Ya, kamu benar, itu istana megah. Matamu tak buta, tapi hati kami yang buta".

 

  

#Sahabat

#Challenge day 3

Sahabat saat bahagia? Ya dia. Dengannya tawaku lepas, tak kuatur iramanya seperti saat aku berhadapan dengan orang lain. Bahkan acapkali hal ‘gila’ pun kami lakukan  hingga membuat kami tergelak. Terlebih dia orang yang memiliki sense of humor yang tinggi. Seringkali otak kerdilnya menjahiliku, hingga membuatku kesal dibuatnya. Katanya hanya ingin sekadar melihat keningku berlipat dan mulutku mengerucut. Lalu dia akan meminta maaf sambil terkekeh. Menggodaku hingga bibirku kembali melengkung melukis senyum, pipiku merah ranum.

Sahabat di kala menapaki hal menegangkan? Hal mengerikan dalam hidup? Ya dia juga. Bersamanya kutapaki jalan hidup yang berbatu, tanjakan curam, turunan, belokan, bahkan putar arah. Tangisku sering pecah di dadanya. Jika sudah demikian rasanya ribuan ton beban yang kupikul tiba-tiba menjadi seringan kapas yang kemudian hilang diterpa angin.

Ya, hanya dia. Dia yang sudah menautkan janji di hadapan para saksi untuk menjadi imamku. Sungguh di hadapannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Sekilas, raut wajahnya menyerupai almarhum Bapak. Pun sifat humorisnya. Kata-kata yang meluncur darinya kerap meneduhkan. Selalu diakhiri dengan ucapan syukur, ikhlas, dan berserah diri pada-Nya. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik.

 

#Berbagi

#Challenge day 4

Cerita Sepotong Bala-bala

Camilan renyah yang makin jadi primadona di saat bulan Ramadan itu, kulahap dengan nikmat. Gayaku saat mengudapnya serupa dengan food vloger di acara kuliner yang bikin ngiler itu. Si jagoan, anakku satu-satunya pun meniruku, mengunyah dengan asyik.

Sementara itu, suamiku masih bertelepon ria dengan kawan lamanya yang tinggal di sebrang pulau. Menyadari piring bala-bala hampir mengilap ia segera mengakhiri perbincangan.

"Yah, habis!" ujar suamiku sesaat setelah ia menutup telepon. Wajahnya muram seperti emak-emak yang kehabisan jatah minyak goreng subsidi.

"Ups!" ucapku terkejut, "kirain gak mau, katanya bosan tiap hari buka puasa sama bala-bala."

"Gara-gara kamu, aku jadi kecanduan!"

Aku terkekeh.

"Ya udah, nih ada sepotong lagi." Kutaruh camilan itu di piringnya. Ia tersenyum, lantas melahapnya dengan sekejap.

"Ini buat ibu, deh!" ujar anakku yang lantas menaruh sepotong bala-bala miliknya di piringku, "kasian Ibu nanti gak kenyang."

Bibirku membentuk segaris senyum sambil menatap anak lelakiku yang kini usianya 8 tahun itu. Ya, ia memang senang berbagi. Di sekolah ia akan dengan senang hati berbagi dengan teman-temannya. Bahkan ia rela jika makanan yang masuk ke dalam perutnya tak membuatnya kenyang. Teruslah berbagi, ya Nak!


#Maaf

#Challenge day 5

Maaf. Telah membuatmu berkubang duka. Mengecap perih, menyesap getir. Matamu yang dulu bersinar, perlahan meredup. Wajahmu yang dulu ayu, perlahan memucat. Tubuhmu pun mulai ringkih. Pandanganmu nanar. Pil dan tablet dari dokter yang meluncur ke dalam tubuhmu rupanya tak dapat membuatmu kembali ke semula. Katanya, tak hanya ragamu yang sakit, jiwamu lebih-lebih merasakan sakit. Bertahanlah, kau harus kuat. Demi anak-anak kita yang masih membutuhkan dekap hangat pelukan orang tua. Terlebih si bungsu yang belum genap dua bulan lahir ke dunia.

Maaf. Kata yang mungkin akan terus kuucapkan. Kata yang akan terus mengalir dari mulutku. Aku tak bisa menyembuhkanmu. Aku tak bisa mengembalikan binar cerah wajahmu seperti dulu. Aku tak bisa memenuhi permintaan terakhirmu. Pergi ke masjid memakai koko dan sarung untuk menunaikan kewajiban kepada Sang Khalik. Lantas membawa serta anak-anak kita, menuntun mereka untuk mengecap kalam Ilahi. Maaf, aku tak bisa menjadi imam yang baik bagimu. Maaf, untuk kesekian kalinya kuucap kata itu di sini. Di dekat pusaramu.

 

 

#Harapan

#Challenge day 6

 

Sebelum pagi menyapa, seperti biasa, Dedeh sudah bersiap membuat kudapan untuk dijajakannya siang nanti. Merajang sayuran, mengulek bumbu, lantas menggorengnya di atas tungku kayu dengan lidah api yang menghangatkan suhu di dapur mungilnya setiap pagi. Tak ada kata lelah dalam kamus hidupnya. Ia hanya ingin sang anak, Sekar, dapat menggapai sejumput asa yang tersemat dalam kalbunya. Menggapai kesuksesan dengan bersekolah tinggi.

Beruntung Sekar tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Bermain dengan teman-temanya hingga lupa waktu. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah. Berdiam diri di dalam kamar. Sesekali ia ke dapur untuk membantu pekerjaan ibunya. Ya, hanya sesekali. Karena Dedeh tak ingin terlalu  membebankan pekerjaannya kepada Sekar. Biarlah ia fokus pada urusan sekolahnya. Maka jika Sekar meminta kuota dengan dalih untuk mengerjakan tugas, Dedeh serta merta akan memenuhinya meski untung yang didapat dari berjualan seringkali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Siang ini daganganya masih banyak tersisa. Meski sejak pagi ia sudah berkeliling kampung menjajakan kudapan olahannya. Ia memutuskan untuk pulang. Berjalan terseok menahan sakit di kaki kirinya sejak ia menderita penyakit diabetes beberapa tahun silam. Tiba-tiba ponselnya lawas miliknya berdering. Ia segera mengangkatnya, berharap ada yang memesan makanan padanya seperti biasanya. Namun dering telepon itu bagai kilatan petir di siang hari baginya. Wali kelas Sekar menyuruhnya ke sekolah karena anaknya telah membuat konten negatif di sosmed miliknya. Jantung Dedeh berdetak dengan debar yang sulit dilukiskan. Tangannya bergetar, setitik air meluncur membasahi garis di pipinya. Harapannya memudar. Seketika semuanya menjadi gelap di hadapannya.

 

 

#Mama

#Challenge day 7

Wanita paling mulia dalam hidupku itu tak pernah berputus asa. Ia akan mengerahkan segala kemampuannya agar kami, anak-anaknya, dapat bersekolah. Seingatku ia tak pernah bertah untuk berdiam diri. Tangannya sangat cekatan memainkan peralatan dapur. Mengolah makanan untuk dijajakan demi mengumpulkan rupiah agar kami dapat tetap melanjutkan sekolah.

Di sela kesibukannya, ia akan dengan teliti memeriksa buku catatan kami kalau-kalau ada tugas sekolah yang harus kami kerjakan. Ya, mama memang pekerja keras. Tak pernah main-main dalam urusan sekolah. Ia tak ingin kisahnya dulu akan terulang dan menimpa kami. Terpaksa putus sekolah sesaat sebelum ujian akhir dilaksanakan. Selembar ijazah yang ia harapkan dalam genggaman terbang tersapu angin ketidakberdayaan. Cita-citanya pupus sudah. Kini bulir bening kerap menggenang di kelopak matanya. Ia tak pernah berhenti mengucap syukur karena apa yang dicita-citakannya berhasil kuraih, menjadi seorang guru.

8 komentar:

Kelas Kreatif Writing Challenge

#Lupa Challenge 18 "PR-nya sudah dikerjakan?" tanyaku. "Belum, Bu. Lupa," jawab muridku sekenanya sambil melukis senyum ...