Rabu, 29 Juni 2022

Kelas Kreatif Writing Challenge

#Lupa
Challenge 18
"PR-nya sudah dikerjakan?" tanyaku.
"Belum, Bu. Lupa," jawab muridku sekenanya sambil melukis senyum di bibirnya.
"Tugas video atau audio yang ibu berikan minggu lalu sudah selesai, kan?" tanyaku lagi di kemudian hari.
"Belum, lupa." 
"Hari ini kita ulangan, ya?" tanyaku suatu hari.
"Ah...Ibu. Lupa gak ngapalin," lagi-lagi jawaban koor dari muridku dengan jawaban yang klise. 
Begitu mudahnya mereka menjawab dengan alasan lupa. Seingatku dulu, aku dan teman-temanku akan menganggap jika lupa mengerjakan PR adalah suatu hal yang memalukan. Kurasa kami tak pernah menjawab lupa dengan semudah itu. Kami akan menunduk, tak berani menatap guru apalagi menjawab dengan alasan lupa disertai dengan senyuman. Apa mereka memang benar-benar lupa ataukah memang tidak ada kesungguhan dalam belajar? Semoga saja tidak. 
Ah, maaf dalam hal ini aku masih membandingkan anak jaman dulu dengan sekarang. Hal itu tentu tidak diperkenankan. Kuanggap ini sebagai ungkapan rasa hati saja. Karena sejatinya kita harus mendidik anak sesuai dengan zamanya, tentu dengan pendekatan-pendekatan yang dapat merubah perilaku mereka. 



#Bapak
Challenge 19

"Kalau Kakak lupa perkalian 6 ke atas, bisa hitung pakai jari ya. Masih ingat kan yang waktu itu ibu ajarin?" sahutku kepada anak lelakiku satu-satunya.
"Ingat dong, Bu. Ibu liat cara itu di tiktok ya? waktu itu kan Kakak liat ibu lagi nonton tiktok tentang itu," celotehnya.
"Ya, tapi ibu tau cara itu dari dulu. Waktu masih SD kelas 2 diajarin sama bapaknya ibu, kakekmu Nak."
"Oh...pasti kakek pintar ya, Bu?"
Bibirku menyunggingkan seulas senyum. Pertanyaan anak lelaki usia 8 tahun itu meleparkan ikatanku pada mendiang bapak. Masih lekat dalam ingatan saat bapak mengajariku perkalian menggunakan jari. Katanya ilmu itu beliau dapat dari anak majikannya, seorang chinese. Setiap menjemput anak majikannya pulang sekolah bapak selalu bertanya banyak hal, lalu saat pulang ke rumah ia akan langsung mengajariku sambil tak lupa membawakan buku sebagai oleh-oleh. Di sela-sela menunggu sang majikan, jika ada waktu luang, bapak juga sering membaca kamus dan mengisi teka-teki silang yang akan ia lahap dengan sekejap. Ya, ia adalah seorang pembelajar. Apapun akan ia pelajari hingga ia mampu. Ibu pun kerap memuji bapak. Ia akan belajar banyak hal hingga pekerjaan di rumah nyaris dikerjakan semua tanpa menyuruh tukang. Membetulkan radio, listrik, tv, hingga kulkas di rumah kami. Tak hanya itu, bapak pun sangat sayang kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Diam-diam aku selalu berdoa kelak akan memiliki pasangan hidup yang sama dengan bapak. Masya Allah...benar saja, doaku terkabul. Imamku memiliki sifat dan karater yang nyaris sama dengan bapak. He's jack of all trades. Tak hanya itu, sekilas, wajahnya pun juga mirip!

#Cinta
Challenge day 20

Saat cinta menghampiri, debar dalam jantung sulit dilukiskan. Bibir senantiasa melengkungkan segaris senyum. Mata berbinar dan pipi pun merah ranum. Apa yang kita lakukan atas dasar cinta akan menjadi suatu hal yang menyenangkan, lepas tanpa beban. Hal yang dipandang berat oleh orang lain akan terasa ringan karena kita melakukannya sepenuh hati. 
Rasa cinta itulah yang membuatku mampu berdiri hinggal kini. Cinta pada pekerjaan yang sudah kujalani bertahun-tahun lamanya, menjadi seorang guru. Walau cinta memang tak selamanya indah, tetapi kuyakin mampu menghadang apapun tantangan yg dihadapi karena cinta itu terpatri dalam hati.

#Mampu
Challenge day 21

"Mana mungkin, aku kan ...."
"Ah, gak mungkin!"
"Mana bisa, kamu itu cuma...."
"Emangnya dia bisa? Gak yakin deh,"
Rasanya kata-kata itu sering terucap dari mulutku sendiri, pun dari orang lain. Keraguan memang sering muncul, tetapi jika kita tidak mencoba, mana mungkin kita bisa tahu kemampuan diri sendiri. Pun kata-kata bernada negatif dari orang lain, jadikan itu pemacu diri untuk dapat membuktikan kalau kita mampu. Fokuslah pada diri sendiri, singkirkan segala keraguan, dan yakin kita mampu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kelas Kreatif Writing Challenge

#Lupa Challenge 18 "PR-nya sudah dikerjakan?" tanyaku. "Belum, Bu. Lupa," jawab muridku sekenanya sambil melukis senyum ...