Dua puluh tahun yang lalu seorang anak diantar oleh ibunya mengetuk pintu
rumah salah seorang tetangganya. Mereka bermaksud akan menanyakan tentang jawaban dari soal-soal PR di sekolahnya yang
berkaitan dengan sepak bola. Saat itu sang ayah tidak berada di rumah karena
sedang bekerja dan ia berinisiatif untuk mendatangi tetangganya yang merupakan
seorang pemain sepak bola di kampungnya. Dua puluh tahun yang lalu pula,
seorang anak memutar-mutar ulang kaset di tape
recorder hanya untuk mencoba menuliskan lirik lagu bahasa inggris yang
digemarinya. Lalu ia pun mencoba menterjemahkan lirik lagu tersebut
dengan kening berkerut karena lirik yang ia tulis salah, sehingga tak ditemukan
artinya di dalam kamus. Demikian beberapa contoh keadaan dimana internet belum
menyentuh kehidupan kita. Lain halnya jika sudah ada internet. Dengan cepat
siapa pun hanya tinggal membuka mesin pencari google, lalu mulai mengetik informasi apa saja yang hendak diketahui.
Selesai!
Ya, tidak dapat dipungkiri, internet
atau interconnected network sudah
menjadi kebutuhan primer manusia karena memenuhi hampir seluruh ruang kehidupan.
Begitu pun halnya dalam bidang pendidikan. Kini, internet menjadi sumber
belajar yang luar biasa. Terlebih di tengah pandemi corona seperti sekarang ini.
Timbullah kesadaran betapa internet besar sekali manfaatnya. Pembelajaran tatap
muka di kelas maupun pelaksanaan rapat atau seminar berganti menjadi
pembelajaran atau pertemuan yang bisa dilaksanakan secara daring yang bisa dilakukan dari rumah
masing-masing. Banyak cerita lucu yang kerap mewarnai hal ini. Pernah suatu ketika seorang guru saat zoom meeting memakai kerudung dengan rapi, namun ketika ia berdiri
hendak mengambil sesuatu di kamarnya, tiba-tiba daster selututnya terpampang
nyata di layar komputer!😅Tak ayal hal itu mengundang gelak tawa siswa-siswinya meski dengan nada tertahan. Atau seorang guru yang terdengar sedang menenangkan buah hatinya
yang tantrum saat webinar berlangsung. Saat itu pemateri dalam webinar
sedang memberikan pemaparan. Celakanya guru tersebut tak tahu cara mematikan
audionya! Banyak hal teknis serupa yang terjadi, maka tak heran jika masih banyak webinar yang diselenggarakan selama masa
pandemi sepi dari pengunjung karena diantaranya masih banyak guru yang tidak melek
internet dan enggan untuk mempelajarinya.
Pembelajaran melalui internet tentulah
menuntut kreatifitas dari para guru untuk menghadirkan pembelajaran yang
menarik dengan memberikan tugas-tugas yang juga menuntut kreatifitas para
siswa. Siswa pun seolah menemukan dunia pembelajaran dengan wajah baru. Beberapa
diantara mereka terlihat begitu antusias mengerjakan tugas sekolah yang
berbasis internet. Meski tak dapat dipungkiri ada pula siswa yang tidak mengerjakan
tugas dengan alasan tidak memiliki kuota atau memang benar-benar malas😠. Tak
jarang hasil tugas mereka kerap menuai decak kagum para guru. Misalnya saja ketika
siswa kelas VII ditugaskan untuk membuat video tentang deskriptif teks dengan
menceritakan benda, orang, atau hewan peliharaan yang menjadi kesukaan mereka,
seorang siswa kelas VII dengan begitu apik berhasil membuat video yang sangat
menarik. Meski deskripsinya masih terbilang sederhana, namun dengan efek tampilan
video ditunjang dengan backsound musik
yang menarik berhasil mendapat acungan jempol para guru. Bahkan beberapa guru
yang memang terbilang gaptek mengatakan jika dirinya saja belum tentu bisa
membuat video semenarik itu. Cara mengedit videonya saja mereka bahkan tidak
paham.
Pada kasus lain seorang guru sempat dibuat kagum dengan jawaban atas soal
ulangan yang diberikannya kepada para siswanya. Hampir semua siswa mendapatkan
nilai yang sempurna. Ternyata salah seorang siswa yang terbilang pintar membagikan
jawabannya di grup WhatsApp kelas
sehingga siswa lain hanya tinggal menyalinnya saja di buku catatan mereka.
Kejadian lain yaitu pada saat pemerintah menghimbau para siswa untuk
melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan menonton tayangan materi
pembelajaran yang disiarkan di statsiun TV milik pemerintah, seorang guru
dibuat terheran-heran dengan jawaban siswa yang nyaris sempurna. Ternyata ia
mencari jawaban melalui channel youtube
yang membagikan kunci jawaban bahkan tanpa perlu menyimak materi yang
ditayangkan terlebih dahulu. Nah, di sinilah diperlukan seorang guru yang senantiasa
meningkatkan wawasannnya dalam hal teknologi yang berkaitan dengan internet
agar tidak ‘kecolongan’ dan bisa mengimbangi kemampuan siswa yang telah
melampaui batas kemampuan yang diperkirakan.
Internet memang memudahkan
proses pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi seperti sekarang ini. Namun
tentunya dibutuhkan kreatifitas dan jiwa pembelajar dari seorang guru untuk
lebih memaksimalkan penggunaan internet dalam proses pembelajaran. Semoga saja pandemi
COVID-19 segera berakhir namun kreatifitas dan rasa ingin tahu guru terhadap
penggunaan internet dalam pembelajaran tidak pula ikut berakhir sehingga
pembelajaran diharapkan akan semakin memotivasi siswa.