Jumat, 24 Desember 2021
Tahun 2021 sungguh merupakan tahun yang luar biasa buatku. Bagaimana tidak, kulewati beragam peristiwa yang mengundang air mata bahagia, haru, hingga perasaan sedih yang menyayat hati. Semuanya berbaur, membuatku merefleksikan diri di penghujung tahun ini dengan mengucap syukur kepada Sang Khalik dan bertafakur memetik hikmah dari setiap kejadian yang dilalui.
Berawal dari keinginan yang kuat untuk mewujudkan mimpi dalam menulis buku tunggal di tahun ini, ku pun mulai merancang sebuah buku yang kuharap dapat memberikan setitik kisah yang dapat membangun kesadaran kaum remaja dalam menggapai mimpi. Tercetuslah ide untuk menulis buku sebuah kumpulan cerpen yang memuat kisah-kisah menginspirasi sarat konflik yang tak jauh dari kehidupan di sekolah. Melalui buku ini kuingin memberi suguhan lain pada buku remaja jaman now yang melulu tentang cinta, penuh kebucinan, bikin baper dan halu tingkat tinggi๐ . Dengan tertatih dan berdarah-darah, finally buku itu rampung dalam waktu sekitar 3 bulan dan masuk penerbit.
Sesaat setelah kutarik napas sejenak dari kepenulisa cerpen yang menguras tenaga dan pikiran juga uang tentunya ๐ (banyak beli buku-buku kumcer dari para penulis yang sudah pro), kupun tergabung dalam kegiatan ODOP (One Day One Page) yang digagas oleh komunitas Lisangbihwa. Saat itu aku bertugas sebagai kurator cerpen. Ilmu yang kudapat dari pengalaman menulis cerpen dalam buku tunggal pun kutransfer pada muridku di sekolah yang menjadi peserta di kegiatan tersebut. Alhamdulillah seluruh peserta yang ikut sebanyak 5 orang lolos tantangan dan mendapat piagam serta medali.
Qadarullah, di tengah kegiatan yang begitu padat suami menderita sakit karena kelelahan. Kondisi badan yang lelah sepulang mudik dari Pangandaran, dipaksakan untuk beres-beres rumah seharian hingga larut malam. Alhasil dia jatuh sakit selama 2 minggu. Aku yang terbiasa dibantu suami dalam pekerjaan rumah sehari-hari cukup kaget harus melakukan apa-apa sendiri. Kupun ikut tumbang, terbaring berdua di rumah sehingga Sulthanku juga terpaksa harus kutitipkan di rumah mamah. Banyak hikmah yang dipetik, mulai dari jangan memaksakan diri bekerja jika terlampau lelah dan membiasakan diri dengan pola makan yang baik.
Setelah beberapa minggu, dalam kondisi yang belum fit aku memenuhi undangan tim Naracerita UPI untuk menjadi pendongeng dalam festival Naracerita. Ini merupakan pengalaman pertamaku menjadi seorang pendongeng. Aku bersyukur menambah pengalaman lain terlebih bisa sharing dengan Kak Ria Enez yang saat itu menjadi guest star. Selain itu aku juga mulai disibukkan dengan seleksi dalam program guru penggerak. Dalam kondisi yang masih lemas, aku harus melewati seleksi peer teaching dan wawancara. Saat kegiatan berlangsung, keringat dingin mulai memenuhi seluruh tubuh karena memang kondisi yang masih belum pulih sempurna. Namun aku bersyukur bisa melewati itu semua dan diluar dugaan aku lolos menjadi calon guru penggerak!
Selanjutnya aku disibukkan dengan kegiatan program guru penggerak yang cukup padat. Di sela kesibukkan aku menyempatkan diri untuk terus mengikuti seminar di komunitas Kelas Kreatif yang selalu menambah ilmu dan pengalaman yang lebih. Aku pun berkesempatan menjadi moderator dalam kegiatan webinar yang digagas oleh Technovilla bekerjasama dengan Disdikbud Subang dan Kelas Kreatif.
Di tengah kesibukan, aku mendapat kabar duka bahwa adik iparku sakit keras. Tak membuang waktu aku segera pergi ke kampung halaman suami untuk melihat kondisinya. Di perjalanan aku sempat beberapa kali berhenti untuk mengerjakan tugas guru penggerak yang harus kurampungkan. Saat tiba di rumah, adik iparku terbaring lemah. Gurat kecantikan dan senyum ramah di wajahnya yang selalu menyambut kedatanganku seketika hilang, berganti rupa dengan wajah pucat pasi dengan mata yang terus terpejam. Kuusap lembut wajahnya dan kugenggam tangannya. Dalam kondisi koma, air matanya meleleh membasahi pipinya. Atas kehendak Allah, alharhumah meninggalkan kami semua ๐ฅ. Doaku untuknya terus mengalir hingga kini...
Dari buku tunggal yang telah kutulis, aku lantas berkesempatan mengikuti Anugerah Parasamya Aksara Nugraha. Ada kejadian yang cukup melahkan sebelum aku mengikuti kegiatan tersebut. Sehari sebelumnya aku harus mengikuti kegiatan MGMP. Setelah itu lanjut mengikuti turnamen badminton di sekolah. Dalam kondisi masih lelah aku langsung menuju hotel. Saat hendak berangkat, tiba-tiba pintu mobil rusak tak bisa dibuka. Terpaksa aku ke bengkel untuk membetulkannya. Setelah itu lanjut meneruskan perjalanan. Karena suami tak ingin kendaraan berkubang lumpur jika melewati jalan raya yang tengah dibeton, terpaksa aku menurutinya menyusuri jalanan ke perkampungan. Mau menuju hotel kok serasa mau mudik ๐. Kisah sedih belum berakhir ketika di perjalanan beberapa kali AC mobil mati di saat hujan yang seakan tak ingin berhenti menumpahkan airnya ke bumi. Alhasil beberapa kali harus berhenti untuk membetulkan sekring kabel AC-nya. Untungnya suami bisa membetukan dan gak perlu ke bengkel. Lumayan lah bisa menghemat anggaran Emak kan๐ . Akhirnya kusampai di hotel bersama suami dan Sulthanku tersayang. Badan rasanya lelah sekali, kaki pun kaku dan pegal terlebih setelah berolahraga tadi aku terpaksa mandi air dingin. Namun semuanya terbayar lunas saat esoknya aku mengikuti kegiatan Anugerah Prasamya Aksara pada tanggal 17 November 2021 di hotel Ibis Budget Bandung.
Setelah acara selesai, aku pun harus mengikuti diskusi via google meet bersama fasilitator dalam kegiatan guru penggerak. Terpaksa kubuka laptop di mobil dan menepi di tempat makan, kebetulan kami memang belum makan siang. Jadilah berdiskusi di google meet sambil sesekali off cam untuk menyuapkan makanan ke mulut๐.
Sejak tergabung dalam guru penggerak kegiatan memang cukup padat. Tidak hanya di sekolah, di luar lingkungan sekolah pun mulai diamanahi tugas yang tentu saja menambah ilmu dan pengalaman. Seperti didapuk menjadi pengurus MGMP Kabupaten dan Komisariat, serta menjadi pemateri dalam workshop. Beberapa waktu lalu aku dan rekan guru penggerak yang lain diundang ke SMAN 1 Cisalak untuk mengisi kegiatan In House Training mengenai pengembangan literasi dan merdeka belajar. Kemudian di akhir tahun ini, ada kegiatan serupa di lingkungan PGRI kecamatan dengan peserta workshop dari guru SD dan SMP di kecamatan Cisalak.
Tahun ini memang banyak kejutan buatku. Kuharap tahun yang akan datang bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik sebagai individu maupun sebagai pendidik yang tak akan pernah berhenti untuk selalu bersyukur dan belajar. Di mana pun adalah kelas, siapa pun adalah guru.