Aksi
Nyata Modul 3.3
Pengelolaan
Program yang Berdampak Pada Murid
Menggemakan
Program Gema Spansak (Gerakan Membaca SMPN 1 Cisalak)
Ria Triana, S.Pd.,Gr.
CGP Angkatan 3
Kabupaten Subang
SMPN 1 Cisalak
Literasi
dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif serta menumbuhkan
budi pekerti siswa. Hal ini sejalan dengan materi pada modul sebelumnya bahwa
dengan budi pekerti, setiap manusia berdiri sebagai manusia. SMPN 1 Cisalak
sudah menjalankan kegiatan literasi dengan baik. Kegiatan literasi yang dilakukan
mampu menginspirasi sekolah lain untuk melakukan hal yang sama. Hal ini salah
satunya karena peran orang tua murid di sekolah kami yang sangat mendukung
kegiatan ini. Pustakawan pun berperan aktif dalam menyediakan buku-buku yang
diperlukan. Tak jarang sekolah-sekolah lain pun mengajak untuk berkolaborasi
dalam kegiatan. Dari hal tersebut sepertinya pemilihan duta literasi dirasa
perlu agar lebih memotivasi kegiatan literasi di sekolah kami.
Saat
kita merancang kegiatan atau program sekolah, murid harus menjadi pertimbangan
utama. Kita semua sepakat bahwa murid dapat melakukan lebih dari apa yang
diinstruksikan oleh guru. Mereka memiliki kapasitas untuk mengambil bagian atau
peranan dalam proses belajar mereka. Hal itu pula yang saya terapkan dalam
program dirancang, yaitu pemilihan duta literasi untuk menumbuhkan budaya
membaca dan menulis serta mengembangkan kegiatan literasi di sekolah melalui
"Gema Spansak" (Gerakan Membaca SMPN 1 Cisalak). Program ini
mendorong 'suara' murid karena mereka dilibatkan dalam perencanaan program.
'Pilihan' murid pun didorong pada saat mereka diajak untuk membuka cakrawala
bahwa ada berbagai pilihan sebagai bahan pertimbangan dalam sebuah keputusan.
Kegiatan ini juga mempromosikan 'kepemilikan' murid pada saat melakukan diskusi
mengenai bahan bacaan apa yang mereka minati.
Program
ini diawali dengan diskusi bersama kepala sekolah, para pembimbing literasi,
dan juga murid yang tergabung dalam ekstrakurikuler literasi terkait program
yang akan dilaksanakan. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan survei minat
membaca dan menulis anak melalui google
form. Kegiatan selanjutnya yaitu curah pendapat bersama murid untuk
mengetahui program membaca dan menulis yang menarik selama ini sekaligus dapat
menguatkan kegiatan literasi di sekolah. Pembahasan diskusi dilanjutkan dengan
menggali pengetahuan murid terkait peran duta literasi di sekolah. Ruang dialog
pun dilaksanakan secara virtual melalui google
meet untuk membahas hasil survei siswa dan menggali mimpi atau harapan
murid serta dampak program yang dilakukan terhadap kemajuan sekolah. Diskusi
berlangsung hangat di antara Kepala Sekolah, para pembimbing literasi,
pustakawan, rekan guru yang lain, orang tua murid dan tentunya para murid yang
menjadi calon duta literasi. Pekan selanjutnya kami membentuk kelompok kerja
yang melibatkan semua pihak termasuk melibatkan murid dalam kepanitiaan.
Saat
menjalankan aksi nyata saya merasa bahagia dan semangat melihat antusiasme
murid dalam mengikuti program ini. Dukungan dari kepala sekolah dan semua pihak
yang terkait pun sangat membantu kelancaran dalam program yang dijalankan.
Murid pun mulai mengisi kartu baca harian dan tak lupa mengomentari bacaan yang
telah dibaca. Orang tua antusias
mendukung dan mendampingi putra-putri mereka. Kegiatan akan berlangsung selama
satu bulan ke depan. Setelah itu akan dilanjut dengan tahapan seleksi berikutnya.
Saya kembali meyakinkan diri bahwa melalui koordinasi yang baik dengan kepala
sekolah, para wakil kepala sekolah, orang tua murid, serta melalui kolaborasi
yang saya bangun dengan para pembimbing literasi, rekan guru yang lain dan
murid tentunya, kegiatan akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Setelah
kegiatan diluncurkan, tampak minat membaca murid semakin meningkat. Mereka
lebih intens mengunjungi perpustakaan sekolah. Selain itu mereka saling
bertukar buku yang mereka miliki. Tampaknya mereka mulai merasakan bahwa
membaca itu adalah sebagai suatu kebutuhan. Kesadaran mereka untuk mulai
memilah sampah pun sudah dimulai dari rumah. Mereka semakin kreatif membuat
hasil karya dari apa yang mereka baca. Namun terdapat beberapa hal yang menjadi
kekhawatiran. Berdasarkan hasil survei terkait minat membaca, mereka lebih
tertarik kepada buku fiksi yang berupa novel atau cerpen. Sementara buku yang
tersedia di perpustakaan untuk jenis buku tersebut masih terbilang kurang. Buku
yang tersedia masih didominasi oleh koleksi buku lama.
Dari
diskusi dan koordinasi yang dilakukan, terdapat beberapa hal yang akan
dilaksanakan sebagai solusi atas permasalahan yang muncul. Guru dapat
mengarahkan murid untuk membaca beberapa buku non fiksi seperti ensiklopedi,
biografi, dan lain sebagainya. Hal ini terkait dengan kegiatan di tahap seleksi
selanjutnya, yaitu akan diberikan materi mengenai literasi numerasi, sains,
budaya, digital dan finansial. Dengan demikian setidaknya mereka akan membaca
buku-buku non fiksi sebagai referensi. Sementara untuk memenuhi kebutuhan
mereka dalam membaca buku fiksi, mereka dapat membaca novel atau cerpen di
internet dengan catatan harus didampingi oleh orang tua di rumah. Hal tersebut
karena khawatir buku yang dibaca tidak sesuai usia mereka atau bahkan
mengandung unsur SARA.
Saya
sangat berharap langkah kecil yang tertuang melalui program ini dapat
memberikan dampak yang luar biasa untuk meningkatkan mutu sekolah melalui
kegiatan literasi. Menjadikan warga sekolah yang literat dan berkarakter
sehingga dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila. Salam literasi! Salam guru
penggerak!
|

|
Gambar 3
Musyawarah kerja dan sosialisasi program "Gema Spansak"
|
|



.jpeg)

