Jumat, 07 Januari 2022

Si 'Bungsu' yang Meresahkan

Benar-benar di luar dugaan! Gigi bungsu yang awalnya kukira biasa saja bisa menjadi sesuatu yang mengerikan. 'Nyeselkeun' kalau menurut istilah dalam bahasa Sunda. Tumbuh gigi geraham baru yang normalnya muncul di usia 17-25 tahun. Sungguh hal yang aneh terjadi padaku karena gigi bungsu itu tumbuh saat aku berusia 30 tahun lebih. 

Saat gigi itu tumbuh sakitnya gak ada obat deh! Menjalar hingga ke pelipis dan kepala. Ini hal yang sangat aneh buatku yang seumur hidup baru merasakan sakit di bagian gigi. Ya, aku salah satu orang yang tak pernah merasakan sakit gigi. Sejak kecil gigiku bersih dan rapi, no bolong-bolong. Hal ini menurun dari almarhum Bapak yang seumur hidupnya tak pernah merasakan sakit gigi. Berbeda dengan mama dan kakakku yang kerap merasakan sakit gigi berkepanjangan.

Kubiarkan si bungsu tumbuh. Kelak akan kucabut dia! Rutukku saban hari. Kupun mendatangi salah seorang dokter praktik. Sang dokter pun memeriksa gigiku. Beliau bilang gigi bungsuku sudah bolong cukup besar. Sebenarnya kalau mau ditambal masih bisa, tapi resikonya akan bolak-balik ke dokter untuk check up. Kalau mau dicabut saja, saran dokter perempuan yang cukup ramah itu. Hanya dia bilang tidak bisa cabut gigi biasa, tapi harus operasi bedah mulut. Aku gak heran sih, sebelumnya memang sering searching di google dan info yang kudapat memang demikian. 

Hari berganti hari (seakan waktu akan berlari). Oops, malah nyanyi lagu jadul😅. Aku bertanya kepada beberapa rekan guru di sekolah. Ternyata banyak yang mengalami hal serupa. Dari sekian saran yang kuterima, aku memutuskan untuk pergi ke RSUD dengan meminta surat rujukan dari dokter faskes BPJSku. Namun tidak di kabupaten tempat tinggalku, melainkan di kabupaten sebelah dengan pertimbangan segala sesuatunya lebih baik (katanya). Keputusanku berubah saat konsul ke asisten dokter faskesku. Kata perempuan bertubuh gempal itu, sebaiknya jangan ke luar daerah dulu, tapi coba ke rumah sakit swasta di daerahku. 

Esoknya aku langsung menuju ke rumah sakit swasta tersebut. Karena urusan domestik sebagai emak di rumah cukup merepotkan, aku pun agak siang sampai di rumah sakit. Alhasil ku harus mengambil antrian sore. Jadilah towaf di supermarket sekadar window shopping meski tetap pikiranku tak bisa berpaling dari si bungsu. Setelah cukup lama aku dan paksu kembali ke rumah sakit. Sang dokter pun ternyata belum datang dan aku harus menunggu cukup lama hingga akhirnya namaku disebut sang perawat. Dengan cukup ramah dokter perempuan yang masih cukup muda itu mengeksekusi si bungsu. Beliau dengan sigap akan segera menambal gigi. Kutepis  dengan segera bahwa aku ingin membuang jauh-jauh saja si gigi yang menambah beban penderitaan hidupku itu. Ia pun sepertinya akan mencoba mencabutnya. Entah apa yang dilakukannya ku tak paham. Yang pasti beberapa kali gusiku rasanya seperti digigit semut dan benda keras beberapa menarik gigiku. Setelah cukup lama menahan sakit yang berdarah-darah itu, dokter berkata bahwa gigiku harus dioperasi. Kupikir, kenapa baru bilang, memang kan gigi bungsu gak bisa dicabut seperti gigi pada umumnya. Malah nambah sakit area mulutku saja!  Dokter muda tersebut lantas memberiku surat rujukan ke RSUD. Nah loh, dari awal aku kan gak mau ke RSUD. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke niat awal, ingin dirujuk ke RSUD di luar kabupaten saja.

Selang beberapa hari, kupun menuju RSUD yang dimaksud. Karena ingin lebih rileks dan mendapat antrian awal, kuputuskan untuk menginap di salah satu penginapan di kota tersebut. Malam harinya, sekadar mengalihkan kekhawatiranku akan hari esok, aku dan paksu towaf ke Mall. Niat cuci mata, eh mata ini malah menangkap satu benda yang menarik hati dan jiwaku 😄. Sebuah jam tangan dengan warna favoritku yang merogoh kocek cukup dalam. Tak apalah pikirku, sebagai obat kegalauanku besok saat operasi!

Pagi hari sekitar pukul 6 lebih, kuputuskan untuk check out dari penginapan dan langsung menuju rumah sakit. Sudah banyak yang mengantri ternyata. Dengan kekuatan paksu, aku berhasil mendapat antrian yang cukup awal, yaitu nomer 8. Kupun duduk menunggu namaku dipanggil oleh petugas. Pasien pun hilir mudik di hadapanku. Mulai dari usia bayi hingga orang yang sudah renta. Kuteringat mendiang kakek. Beliau kerap kontrol ke rumah sakit. Sepanjang hidupnya memang tak pernah lepas dari obat. Bayangan almarhum bapak pun melintas. Beliau memiliki riwayat penyakit diabetes yang cukup parah. Kaca jendela rumah sakit seakan berubah menjadi tayangan slide demi slide riwayat keluarga tercintaku yang telah terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya. Kutarik napas dalam-dalam. Selama ini aku terlena dengan nikmat sehat yang Allah berikan hingga lupa bahwasanya hal tersebut amatlah mahal 🥺.

Tak berapa lama, namaku disebut dan aku langsung menuju poli gigi dan bedah mulut. Tak banyak pasien di sana dan tak lama berselang aku memasuki ruangan dokter. Dokter perempuan itu lantas memeriksa si bungsu. Beliau bilang minggu depan gigiku harus dirontgen terlebih dahulu. Seminggu kemudian tes swab, baru bisa operasi. Fiuh! Lama nian gumamku. Akhirnya kupun keluar ruangan konsultasi dengan asisten dokter dan katanya hari ini bisa langsung dirontgen dulu. Tak membuang waktu, setelah kuterima surat rujukan untuk rontgen, kupun langsung menuju ke tempat yang dimaksud. Dan ternyata antriannya cukup panjang. Setelah satu jam lebih baru tibalah waktuku masuk ruangan rontgen. Ternyata menunggu hasilnya pun cukup lama pula, sekitar satu jam bahkan bisa lebih! Setelah dengan penuh kesabaran, aku menerima hasil rontgen-ku dan kembali menuju poli gigi. Kuserahkan hasil tersebut dan tak berapa lama sang asisten memanggil namaku. Katanya gigi bungsuku tak hanya satu yang bermasalah, tapi dua! Jika tak ingin bermasalah di kemudian hari, keduanya harus dicabut. Dengan pasrah kujawab ya sudah, ambil saja dua-duanya. Ku pun masuk ruangan untuk bertemu dokter. Dokter lelaki paruh baya itu bilang dua gigi bungsuku harus dicabut. Bahkan gigi yang sebelahnya juga. Jadi total 3 gigi yang harus lenyap. Beliau pun bilang bahwa nanti aku harus dibius total. Sungguh, jantungku berdebar tak karuan. Tapi keinginanku untuk sembuh mengalahkan semuanya. Kuiyakan perkataan sang dokter. Asisten bertubuh tinggi itu pun menjadwalkan operasiku. Dia bilang dua bulan kemudian aku baru bisa beroperasi. Itu pun setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang cukup panjang. Jadi aku harus kembali ke rumah sakit sekurang-kurangnya 2 kali kunjungan lagi. Apa mau dikata, kupun pasrah sambil tak henti memanjatkan doa pada-Nya. 

Kuputuskan untuk segera pulang ke rumah (setelah sempat melipir ke toko baju dan membungkus 2 potong gamis)😅. Namun seperti biasa aku menjemput si kecil ke rumah mamaku. Saat hati sedang tak karuan, tetiba tetangga samping rumah mamaku datang untuk berbelanja (kebetulan orang tuaku buka warung kecil-kecilan). Aku pun mengeluhkan perihal keadaanku. Dan dia bilang sebulan yang lalu baru saja mengalami hal serupa. Dia mendatangi salah seorang dokter praktik di ibu kota provinsi. Alhamdulillah giginya pun bisa dicabut tanpa melewati proses operasi yang cukup melelahkan dan mendebarkan. Bak menemukan oase di padang pasir, kupun dapat tersenyum dan menaruh harapan besar dapat sembuh dengan cabut gigi biasa tanpa operasi. Esok, rencananya aku akan menuju dokter tersebut. Aku tak henti berdoa akan kelancaran segalanya. Ya Rabb engkau sebaik-baik tempat mengadu, kabulkanlah doaku...Aamiin.

Kelas Kreatif Writing Challenge

#Lupa Challenge 18 "PR-nya sudah dikerjakan?" tanyaku. "Belum, Bu. Lupa," jawab muridku sekenanya sambil melukis senyum ...