#Bersyukur
#Challenge day 1
Di balik sifatnya
yang kerap santai dan tenang dalam menghadapi segala hal, kukira ia adalah
manusia yang paling banyak mengucap syukur. Ya, ia yang selama ini menjadi
imamku. Hal paling sederhana sekalipun akan ia akhiri dengan ucapan syukur.
Mungkin sebagian orang menganggap hal itu biasa. Namun di matanya semua hal akan
menjadi luar biasa dan patut untuk disyukuri.
Pun jika
menemui kegagalan, ia juga akan bersyukur. Katanya masih banyak hal yang patut
kita syukuri dan mengambil hikmah dari setiap masalah yang kita hadapi.
Pernah suatu
ketika karena satu dan lain hal kami tidak jadi berangkat ke tempat yang kami
tuju. Alih-alih kecewa, ia berujar kami harusnya bersyukur. Allah menyimpan
rahasia di balik ini semua. Jika kami jadi pergi, bisa saja sesuatu yang tidak
kami harapkan akan terjadi. Allah menunda hingga saat yang tepat agar kami
dapat selamat. Kutercenung mencerna kata demi kata yang meluncur dari mulutnya.
Dari dirinya aku banyak belajar sehingga ucapan syukur senantiasa mengalir dari
mulutku kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apapun yang kuhadapi.
#Pilihan/Memilih
#Challenge day 2
Kubilang Istana
Semua orang
saat itu menyayangkan pilihanku. Mereka acapkali merasa kesal dan geram atas
pilihanku. Berkali-kali pula mereka mencoba meyakinkanku.
"Kenapa
sih kamu pilih gubuk reyot itu?"
"Mana?
Oh, itu kan istana megah."
"Yakin? Liat
deh sekali lagi. Buka matamu lebar-lebar!'
"Itu
istana. Indah, penuh warna dan cahaya...." jawabku sambil tersenyum.
"Udah
jelas gubuk. Kamu tuh ya, dibilangin gak percaya. Semua orang juga bilang kalau
itu gubuk. Matamu buta!"
Mereka tak
henti meyakinkanku. Beberapa diantaranya bahkan memilih pergi. Menjauh dariku.
Dan Aku? Aku semakin yakin dengan pilihanku dengan terus melangitkan doa dan
mengangkasa harap di setiap helaan napasku. Berserah pada-Nya. Ikhlas. Hingga
suatu ketika, mereka pun berkata "Ya, kamu benar, itu istana megah. Matamu
tak buta, tapi hati kami yang buta".
#Sahabat
#Challenge day 3
Sahabat saat
bahagia? Ya dia. Dengannya tawaku lepas, tak kuatur iramanya seperti saat aku
berhadapan dengan orang lain. Bahkan acapkali hal ‘gila’ pun kami lakukan hingga membuat kami tergelak. Terlebih dia
orang yang memiliki sense of humor
yang tinggi. Seringkali otak kerdilnya menjahiliku, hingga membuatku kesal
dibuatnya. Katanya hanya ingin sekadar melihat keningku berlipat dan mulutku
mengerucut. Lalu dia akan meminta maaf sambil terkekeh. Menggodaku hingga
bibirku kembali melengkung melukis senyum, pipiku merah ranum.
Sahabat di
kala menapaki hal menegangkan? Hal mengerikan dalam hidup? Ya dia juga.
Bersamanya kutapaki jalan hidup yang berbatu, tanjakan curam, turunan, belokan,
bahkan putar arah. Tangisku sering pecah di dadanya. Jika sudah demikian
rasanya ribuan ton beban yang kupikul tiba-tiba menjadi seringan kapas yang
kemudian hilang diterpa angin.
Ya, hanya dia.
Dia yang sudah menautkan janji di hadapan para saksi untuk menjadi imamku.
Sungguh di hadapannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Sekilas, raut wajahnya
menyerupai almarhum Bapak. Pun sifat humorisnya. Kata-kata yang meluncur
darinya kerap meneduhkan. Selalu diakhiri dengan ucapan syukur, ikhlas, dan
berserah diri pada-Nya. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik.
#Berbagi
#Challenge day 4
Cerita Sepotong
Bala-bala
Camilan renyah
yang makin jadi primadona di saat bulan Ramadan itu, kulahap dengan nikmat.
Gayaku saat mengudapnya serupa dengan food vloger di acara kuliner yang bikin
ngiler itu. Si jagoan, anakku satu-satunya pun meniruku, mengunyah dengan
asyik.
Sementara itu,
suamiku masih bertelepon ria dengan kawan lamanya yang tinggal di sebrang
pulau. Menyadari piring bala-bala hampir mengilap ia segera mengakhiri perbincangan.
"Yah,
habis!" ujar suamiku sesaat setelah ia menutup telepon. Wajahnya muram
seperti emak-emak yang kehabisan jatah minyak goreng subsidi.
"Ups!"
ucapku terkejut, "kirain gak mau, katanya bosan tiap hari buka puasa sama
bala-bala."
"Gara-gara
kamu, aku jadi kecanduan!"
Aku terkekeh.
"Ya udah,
nih ada sepotong lagi." Kutaruh camilan itu di piringnya. Ia tersenyum,
lantas melahapnya dengan sekejap.
"Ini buat
ibu, deh!" ujar anakku yang lantas menaruh sepotong bala-bala miliknya di
piringku, "kasian Ibu nanti gak kenyang."
Bibirku
membentuk segaris senyum sambil menatap anak lelakiku yang kini usianya 8 tahun
itu. Ya, ia memang senang berbagi. Di sekolah ia akan dengan senang hati
berbagi dengan teman-temannya. Bahkan ia rela jika makanan yang masuk ke dalam
perutnya tak membuatnya kenyang. Teruslah berbagi, ya Nak!
#Maaf
#Challenge day 5
Maaf. Telah
membuatmu berkubang duka. Mengecap perih, menyesap getir. Matamu yang dulu
bersinar, perlahan meredup. Wajahmu yang dulu ayu, perlahan memucat. Tubuhmu
pun mulai ringkih. Pandanganmu nanar. Pil dan tablet dari dokter yang meluncur
ke dalam tubuhmu rupanya tak dapat membuatmu kembali ke semula. Katanya, tak
hanya ragamu yang sakit, jiwamu lebih-lebih merasakan sakit. Bertahanlah, kau
harus kuat. Demi anak-anak kita yang masih membutuhkan dekap hangat pelukan
orang tua. Terlebih si bungsu yang belum genap dua bulan lahir ke dunia.
Maaf. Kata
yang mungkin akan terus kuucapkan. Kata yang akan terus mengalir dari mulutku.
Aku tak bisa menyembuhkanmu. Aku tak bisa mengembalikan binar cerah wajahmu
seperti dulu. Aku tak bisa memenuhi permintaan terakhirmu. Pergi ke masjid memakai
koko dan sarung untuk menunaikan kewajiban kepada Sang Khalik. Lantas membawa
serta anak-anak kita, menuntun mereka untuk mengecap kalam Ilahi. Maaf, aku tak
bisa menjadi imam yang baik bagimu. Maaf, untuk kesekian kalinya kuucap kata itu
di sini. Di dekat pusaramu.
#Harapan
#Challenge day 6
Sebelum pagi
menyapa, seperti biasa, Dedeh sudah bersiap membuat kudapan untuk dijajakannya
siang nanti. Merajang sayuran, mengulek bumbu, lantas menggorengnya di atas
tungku kayu dengan lidah api yang menghangatkan suhu di dapur mungilnya setiap
pagi. Tak ada kata lelah dalam kamus hidupnya. Ia hanya ingin sang anak, Sekar,
dapat menggapai sejumput asa yang tersemat dalam kalbunya. Menggapai kesuksesan
dengan bersekolah tinggi.
Beruntung
Sekar tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Bermain dengan teman-temanya
hingga lupa waktu. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah. Berdiam diri di
dalam kamar. Sesekali ia ke dapur untuk membantu pekerjaan ibunya. Ya, hanya
sesekali. Karena Dedeh tak ingin terlalu membebankan pekerjaannya kepada Sekar. Biarlah
ia fokus pada urusan sekolahnya. Maka jika Sekar meminta kuota dengan dalih untuk
mengerjakan tugas, Dedeh serta merta akan memenuhinya meski untung yang didapat
dari berjualan seringkali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Siang ini daganganya
masih banyak tersisa. Meski sejak pagi ia sudah berkeliling kampung menjajakan
kudapan olahannya. Ia memutuskan untuk pulang. Berjalan terseok menahan sakit di
kaki kirinya sejak ia menderita penyakit diabetes beberapa tahun silam. Tiba-tiba
ponselnya lawas miliknya berdering. Ia segera mengangkatnya, berharap ada yang
memesan makanan padanya seperti biasanya. Namun dering telepon itu bagai
kilatan petir di siang hari baginya. Wali kelas Sekar menyuruhnya ke sekolah
karena anaknya telah membuat konten negatif di sosmed miliknya. Jantung Dedeh
berdetak dengan debar yang sulit dilukiskan. Tangannya bergetar, setitik air
meluncur membasahi garis di pipinya. Harapannya memudar. Seketika semuanya
menjadi gelap di hadapannya.
#Mama
#Challenge day 7
Wanita paling
mulia dalam hidupku itu tak pernah berputus asa. Ia akan mengerahkan segala
kemampuannya agar kami, anak-anaknya, dapat bersekolah. Seingatku ia tak pernah
bertah untuk berdiam diri. Tangannya sangat cekatan memainkan peralatan dapur.
Mengolah makanan untuk dijajakan demi mengumpulkan rupiah agar kami dapat tetap
melanjutkan sekolah.
Di sela
kesibukannya, ia akan dengan teliti memeriksa buku catatan kami kalau-kalau ada
tugas sekolah yang harus kami kerjakan. Ya, mama memang pekerja keras. Tak
pernah main-main dalam urusan sekolah. Ia tak ingin kisahnya dulu akan terulang
dan menimpa kami. Terpaksa putus sekolah sesaat sebelum ujian akhir
dilaksanakan. Selembar ijazah yang ia harapkan dalam genggaman terbang tersapu
angin ketidakberdayaan. Cita-citanya pupus sudah. Kini bulir bening kerap
menggenang di kelopak matanya. Ia tak pernah berhenti mengucap syukur karena
apa yang dicita-citakannya berhasil kuraih, menjadi seorang guru.
Kereeen.. Suka bgt tulisannya.. Keep writing, girl!! πͺπ
BalasHapusThanks a lotπππ
BalasHapusMantullll...
BalasHapusThanks a lot bestiee
HapusHarus banyak belajar darimu, kereeenn...terima kasih sudah menginspirasi...π₯°
BalasHapusIbuuu....π❤️π
HapusSelalu terbaikπ
BalasHapusππ€❤️
Hapus