Jumat, 18 Februari 2022

Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Kata mutiara di atas mengandung arti bahwa mengajarkan berhitung memang suatu hal yang perlu, tetapi mengajarkan apa yang berharga merupakan suatu hal yang tidak mudah dan menjadi hal utama karena membutuhkan keteladanan dan proses yang cukup lama yang akan menjadi nilai kebajikan yang tertanam dalam diri.

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Filosopi Pratap Triloka ini dikenal hingga kini, yaitu:

1.      Ing Ngarso Sung Tulodo

Hal ini bermakna seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan harus penuh analisis dan pertimbangan agar menghasilkan keputusan yang dapat dijadikan contoh oleh peserta didik.

2.      Ing Madyo Mangun Karso

Hal ini berarti keputusan yang diambil oleh seorang guru dapat menimbulkan semangat bagi murid-muridnya.

3.      Tut Wuri Handayani

Hal ini berarti keputusan yang diambil dapat memberikan dukungan moral kepada murid-muridnya.

Nilai-nilai yang ada dalam diri seorang guru sangat berpengaruh terhadap keputusan yang diambil. Guru harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan, dan senantiasa mengingat bahwa keputusan yang diambilnya akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Jika memiliki keyakinan seperti itu, maka guru akan berpegang teguh pada prinsip yang ada dalam dirinya dan menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid. Sebaliknya, jika nilai-nilai dalam dirinya pudar, idealismenya luntur, maka dalam pengambilan keputusan akan mementingkan kepentingan pribadinya saja.

Pendampingan yang diberikan pendamping dalam sesi coaching tentu sangat membantu guru dalam mengambil keputusan. Pada sesi coaching, guru sebagai coachee akan mampu mengoptimalkan potensi dirinya yang berimbas pada pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Keterampilan coaching juga membekali seorang guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat berbagai solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

Aspek sosial dan emosional yang dimiliki oleh seorang guru tentu akan berpengaruh pada proses pengambilan keputusan. Seorang guru sepatutnya memiliki nilai sosial dan emosional yang baik dalam dirinya yang menjadikan dirinya berpikir dengan penuh pertimbangan untuk pengambilan keputusan yang tepat dengan resiko yang sekecil-kecilnya.

Pembahasan studi kasus yang berfokus pada moral dan etika lebih ditekankan kepada nilai yang dianut pendidik dengan pertimbangan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hal ini karena lingkungan akan membentuk karakter seseorang sehingga akan tertanam kuat dalam diri. Nilai-nilai tersebut sangat berpengaruh pada proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan moral dan etika karena memerlukan intuisi dari keyakinan yang kuat.

Pengambilan keputusan yang tepat yaitu diawali dengan menganalisis situasi apakah termasuk ke dalam dilema etika atau bujukan moral. Jika itu adalah sebuah dilema etika maka perlu menetukan keempat paradigm yang ada, yakni:

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Setelah itu kita harus menentukan prinsip pengambilan keputusan, yaitu:

1.      Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.      Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Langkah selanjutnya kita harus dengan cermat mengambil keputusan dengan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan, yakni:

1.       Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.       Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.       Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.       Pengujian benar atau salah

5.       Pengujian paradigma benar lawan benar.

6.       Melakukan prinsip resolusi

7.       Investigasi opsi trilema

8.       Buat keputusan

9.       Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

Kesulitan-kesulitan yang ada di lingkungan pada saat pengambilan keputusan dilema etika diantaranya adalah nilai dan budaya masyarakat yang ada dalam lingkungan tersebut. Keterbatasan pengetahuan, kekhawatiran akan keputusan yang daimbil dan ketidaktelitian dalam mengidentifikasi fakta juga akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Perbedaan sudut pandang juga sangat berpengaruh. Kita harus benar-benar cermat dalam menentukan paradigm dilema etika dan menentukan skala prioritas karena dalam dilema etika pilihan keduanya adalah benar.

Pengambilan keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif dan nyaman. Hal ini berimbas pada merdeka belajar karena murid mampu memilah dan memilih hal yang baik dalam mengoptimalkan bakat dan minat yang ada dalam dirinya.

Keputusan yang diambil seorang guru tentu akan mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Guru merupakan ujung tombak pendidikan yang seyogyanya dapat menuntun anak dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada. Keputusan tepat yang diambil dapat menjadikan murid menjadi pribadi yang tangguh dan solutif.

Guru sebagai pengambil keputusan memiliki peran yang sangat penting dalam mengajar dan mendidik muridnya, terutama dalam penanaman nilai-nilai kebajikan yang akan menjadi budaya positif di lingkungan sekolah. Ia harus memiliki kompetensi sosial dan emosional yang matang, yang akan mendukung dalam pengambilan keputuan yang tepat. Selain itu dengan pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan, akan mengoptimalkan kemampuan, bakat dan minat murid. Pun melalui proses coaching, peserta didik dapat memecahkan masalahnya sendiri dengan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka.

16 komentar:

  1. Tulisan yang apik dan enak dibaca. Beberapa modul dapat terkoneksi secara kuat. Keren dan sangat menginspirasi. Luar biasa. Sukses buat Bu Ria.....

    BalasHapus
  2. Tulisan yg baik & sangat menginpirasi.Sukses buat bu Ria Triana...good joobπŸ‘

    BalasHapus
  3. Tulisan yang sangat menginspirasi, sukses terus bu Ria

    BalasHapus
  4. Guru harus selalu menjunjung tinggi nilai2 kebajikan,dan keputusan yang diambil akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti, super sekali tulisan nya ...sukses selalu buat bu Ria

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari saling mengingatkan, semoga kita semua dapat menjadi guru yg senantiasa berpihak pd murid...Aamiin htr nhn buπŸ™

      Hapus
  5. Tulisan yang bermanfaat dan sangat menginspirasi.. Luar biasa.. Sukses kanggo bu Ria

    BalasHapus
  6. Great statement dear, keep the spirit to do ur best. Success always πŸ‘πŸ˜

    BalasHapus
  7. Luar biasa. Tulisannya sangat menginspirasi. Keep writing!

    BalasHapus
  8. Tulisan ini sangat bagus dan menginspirasi,sehingga wawasan saya bertambah dan ilmunya bisa langsung di praktekkan kepada peserta didik saya,bahkn untuk keluarga.terimakasih bu ria ..ditunggu tulisan berikutnya..πŸ™πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Masyaallah menginspirasi sekali bu ria πŸ‘ enak dibaca dan mudah dipahami sehingga pengetahuan saya tentang coaching ini bertambah. Terimakasih bu , suksess πŸ‘

    BalasHapus
  11. Ibuuuu setuju sekali dengan tulisan ibu. Paragraf terakhir terutama bagus sekali, sangat menginspirasi. In syaa Allah jadi bahan renungan buat saya pribadi.

    "Guru sebagai pengambil keputusan memiliki peran yang sangat penting dalam mengajar dan mendidik muridnya, terutama dalam penanaman nilai-nilai kebajikan yang akan menjadi budaya positif di lingkungan sekolah. Ia harus memiliki kompetensi sosial dan emosional yang matang, yang akan mendukung dalam pengambilan keputuan yang tepat. Selain itu dengan pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan, akan mengoptimalkan kemampuan, bakat dan minat murid. Pun melalui proses coaching, peserta didik dapat memecahkan masalahnya sendiri dengan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka."

    BalasHapus

Kelas Kreatif Writing Challenge

#Lupa Challenge 18 "PR-nya sudah dikerjakan?" tanyaku. "Belum, Bu. Lupa," jawab muridku sekenanya sambil melukis senyum ...