Senin, 11 Mei 2020

Pandemi COVID-19, Guru Semakin Dituntut Melek Internet

Dua puluh tahun yang lalu seorang anak diantar oleh ibunya mengetuk pintu rumah salah seorang tetangganya. Mereka bermaksud akan menanyakan tentang jawaban dari soal-soal PR di sekolahnya yang berkaitan dengan sepak bola. Saat itu sang ayah tidak berada di rumah karena sedang bekerja dan ia berinisiatif untuk mendatangi tetangganya yang merupakan seorang pemain sepak bola di kampungnya. Dua puluh tahun yang lalu pula, seorang anak memutar-mutar ulang kaset di tape recorder hanya untuk mencoba menuliskan lirik lagu bahasa inggris yang digemarinya. Lalu ia pun mencoba menterjemahkan lirik lagu tersebut dengan kening berkerut karena lirik yang ia tulis salah, sehingga tak ditemukan artinya di dalam kamus. Demikian beberapa contoh keadaan dimana internet belum menyentuh kehidupan kita. Lain halnya jika sudah ada internet. Dengan cepat siapa pun hanya tinggal membuka mesin pencari google, lalu mulai mengetik informasi apa saja yang hendak diketahui. Selesai!

Ya, tidak dapat dipungkiri, internet atau interconnected network sudah menjadi kebutuhan primer manusia karena memenuhi hampir seluruh ruang kehidupan. Begitu pun halnya dalam bidang pendidikan. Kini, internet menjadi sumber belajar yang luar biasa. Terlebih di tengah pandemi corona seperti sekarang ini. Timbullah kesadaran betapa internet besar sekali manfaatnya. Pembelajaran tatap muka di kelas maupun pelaksanaan rapat atau seminar berganti menjadi pembelajaran atau pertemuan yang bisa dilaksanakan secara daring yang bisa dilakukan dari rumah masing-masing. Banyak cerita lucu yang kerap mewarnai hal ini. Pernah suatu ketika seorang guru saat zoom meeting memakai kerudung dengan rapi, namun ketika ia berdiri hendak mengambil sesuatu di kamarnya, tiba-tiba daster selututnya terpampang nyata di layar komputer!πŸ˜…Tak ayal hal itu mengundang gelak tawa siswa-siswinya meski dengan nada tertahan. Atau seorang guru yang terdengar sedang menenangkan buah hatinya yang tantrum saat webinar berlangsung. Saat itu pemateri dalam webinar sedang memberikan pemaparan. Celakanya guru tersebut tak tahu cara mematikan audionya! Banyak hal teknis serupa yang terjadi, maka tak heran jika masih banyak webinar yang diselenggarakan selama masa pandemi sepi dari pengunjung karena diantaranya masih banyak guru yang tidak melek internet dan enggan untuk mempelajarinya.

Pembelajaran melalui internet tentulah menuntut kreatifitas dari para guru untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik dengan memberikan tugas-tugas yang juga menuntut kreatifitas para siswa. Siswa pun seolah menemukan dunia pembelajaran dengan wajah baru. Beberapa diantara mereka terlihat begitu antusias mengerjakan tugas sekolah yang berbasis internet. Meski tak dapat dipungkiri ada pula siswa yang tidak mengerjakan tugas dengan alasan tidak memiliki kuota atau memang benar-benar malas😠. Tak jarang hasil tugas mereka kerap menuai decak kagum para guru. Misalnya saja ketika siswa kelas VII ditugaskan untuk membuat video tentang deskriptif teks dengan menceritakan benda, orang, atau hewan peliharaan yang menjadi kesukaan mereka, seorang siswa kelas VII dengan begitu apik berhasil membuat video yang sangat menarik. Meski deskripsinya masih terbilang sederhana, namun dengan efek tampilan video ditunjang dengan backsound musik yang menarik berhasil mendapat acungan jempol para guru. Bahkan beberapa guru yang memang terbilang gaptek mengatakan jika dirinya saja belum tentu bisa membuat video semenarik itu. Cara mengedit videonya saja mereka bahkan tidak paham.

Pada kasus lain seorang guru sempat dibuat kagum dengan jawaban atas soal ulangan yang diberikannya kepada para siswanya. Hampir semua siswa mendapatkan nilai yang sempurna. Ternyata salah seorang siswa yang terbilang pintar membagikan jawabannya di grup WhatsApp kelas sehingga siswa lain hanya tinggal menyalinnya saja di buku catatan mereka. Kejadian lain yaitu pada saat pemerintah menghimbau para siswa untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan menonton tayangan materi pembelajaran yang disiarkan di statsiun TV milik pemerintah, seorang guru dibuat terheran-heran dengan jawaban siswa yang nyaris sempurna. Ternyata ia mencari jawaban melalui channel youtube yang membagikan kunci jawaban bahkan tanpa perlu menyimak materi yang ditayangkan terlebih dahulu. Nah, di sinilah diperlukan seorang guru yang senantiasa meningkatkan wawasannnya dalam hal teknologi yang berkaitan dengan internet agar tidak ‘kecolongan’ dan bisa mengimbangi kemampuan siswa yang telah melampaui batas kemampuan yang diperkirakan.

Internet memang memudahkan proses pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi seperti sekarang ini. Namun tentunya dibutuhkan kreatifitas dan jiwa pembelajar dari seorang guru untuk lebih memaksimalkan penggunaan internet dalam proses pembelajaran. Semoga saja pandemi COVID-19 segera berakhir namun kreatifitas dan rasa ingin tahu guru terhadap penggunaan internet dalam pembelajaran tidak pula ikut berakhir sehingga pembelajaran diharapkan akan semakin memotivasi siswa.

11 komentar:

  1. Luar biasa, inspiratif banget! πŸ‘πŸ‘
    Mudah²an kita lebih melek internet melebihi anak didik kita.

    BalasHapus
  2. Mantap Bu Ria, moga bisa menginspirasi kita ( terutama emak2 spt saya) agar tetap πŸ’ͺπŸ’ͺutk melek ITπŸ˜€

    BalasHapus
  3. Asyik bacanya, ceritanya mengalir enak diikuti, nah... jadi trinspirasi buat kls vct di grup lisangbihwa... πŸ‘πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak ibu...πŸ€—πŸ€—

      Hapus
  4. Betul juga bahwa saat ini guru harus menguasai TIK dan jangan gaptek

    BalasHapus
  5. Hebat keren bu πŸ‘πŸ˜˜

    BalasHapus
  6. Hehehe, banyak kisah di balik pandemi ya Bu. Keren tulisannya πŸ‘πŸ»

    BalasHapus

Kelas Kreatif Writing Challenge

#Lupa Challenge 18 "PR-nya sudah dikerjakan?" tanyaku. "Belum, Bu. Lupa," jawab muridku sekenanya sambil melukis senyum ...